Headlines News :
Home » » MAKNA TUMPEK ATAG / TUMPEK UDUH / TUMPEK BUBUH/ DALAM METOLOGI HINDU DI BALI

MAKNA TUMPEK ATAG / TUMPEK UDUH / TUMPEK BUBUH/ DALAM METOLOGI HINDU DI BALI

Written By balinuse on Wednesday, February 11, 2015 | 11:40 PM


MAKNA TUMPEK ATAG / TUMPEK UDUH / TUMPEK BUBUH/ DALAM METOLOGI HINDU DI BALI


PENDAHULUAN

1 Latar Belakang
Tumpek sangat erat kaitannya dengan Kalender Hindu di Bali. Tumpek dalam metologi Hindu, dimasyarakat awam sering dikatakan otonannya, bisa dibilang ulang tahun Bali otonan (6 bulan sekali ‘) sutu peringatan sebagai ungkapan rasa syukur dan trimakasih. Di mana umat Hindu membuat sesajen/upakara untuk memuja Hyang Widhi Wasa, karena beliau telah melimpahkan segala wara nugraha-Nya kepada kita dari hasil atau manfaat yang kita dapat manfaatkan untuk membantu kita hidup.
Adapun bebrapa jenis tumpek menurut Hindu di Bali antara lain:
1. Peringatan Kemaha Kuasaan Hyang Pasupati diperingati oleh umat hindu di Bali dengan sebutan Tumpek Landep.  Bersyukur kepada Hyang Maha Pencipta dalam manifestasinya sebagai Hyang Pasupati atas ciptaanya, sehingga atas analisis dari manusia menggunakan ketajaman Jnananya sehingga berhasilah mengolah logam logam yang dipergunakan untuk melancarkan usahanya dalam menunjang kehidupan sehari-hari, sehingga lazimnya pada tumpek ini sepertinya di katagorikan sebagai sarwa sanjata-senjatanya yang dari Logam, pada hal yang utama bagaimana ketajaman dari Jnanam kita yang di anugrahi oleh sang maha pencipta. Yang diupakarai termasuk barang-barang terbuat dari logam yang mendukung didalam meningkatkan kehidupan sebagai senjata didalam mencari nafkah atau mata pencarian seperti kendaraan, mesin-mesin dan lainnya yang terbuat dari logam.
2. Peringatan Kemaha Kuasaan Hyang Maha Ista Dewata disebut Tumpek Kuningan (hari Raya Kunningan). Bersyukur kepada Hyang Maha Pencipta dalam manifestasinya sebagai Hyang Iste dewata atas ciptaanya, sehingga kita sebagai manusia bisa melakukan penghormatan kepada Raje-Dewata dan Dewati atas jasa yang telah diberikan kepada kita, sehingga kita bisa meneruskan cita cita para leluhur semasa hidupnya.
3. Peringatan Kemaha Kuasaan Hyang  Hyang Aji Gurnita  disebut tumpek Klurut / khusus dibidang keindahan dan seni, sehingga atas analisis & usaha manusia bisa menikmati kesenangannya dalam Keindahan dan seni.
4. Bersyukur kepada Hyang Maha Pencipta dalam manifestasinya sebagai Hyang Rare angon atas ciptaanya yang di masyarakat Bali diperingati dnegan Tumpek Uye, sehingga atas analisys dan usaha manusia bisa memanfaatkan jasa-jasa dari hewan / binatang baik yang dinikmati langsung maupun yang dikerjakan sebagai pekerja.
5. Bersyukur kepada Hyang Maha Pencipta dalam manifestasinya sebagai Hyang Iswara atas ciptaanya, sehingga atas analisys dan usahanya manusia mampu untuk berkreasi dalam mewujudkan Aikyam, Ciwam, Sundaram, dimasyarakat Bali diperingati dengan istilah Tumpek Wayang.
6. Peringatan Kemaha Kuasaan Hyang Sangkara diperingati oleh umat Hindu di Bali berupa Tumpek Wariga atau disebut Tumpek atag/pengatag, Tumpek Uduh, atau Tumpek Bubuh. Bersyukur kepada Hyang Maha Pencipta dalam manifestasinya sebagai Hyang Sangkara atas ciptaanya, atas analisis manusia serta usahanya untuk mengolah tumbuh tumbuhan sedemikian rupa, sehingga memberikan makna dan berhasil guna untuk memenuhi kehidupan sehari-hari.

2 Ruang Lingkup
      Bali memiliki konsep Tuhan Saguna yang tiap bagian dari kehidupan mendasar tersebut sangat erat kaitannya dengan dunia niskala dan sekala, termasuk juga dalam urusan tanaman. Menyadari pentingnya hal tersebut, tumbuhan pun mendapatkan tempat yang istimewa dalam usaha memanusiakan alam, karena di Bali, kita mengenal istilah "mendewakan manusia- memanusiakan Dewa".  Mengingat ada beberapa jenis Tumpek seperti disebutkan diatas maka dalam pembahasan pada makalah ini mengkhususkan tentang Tumpek atag/pengatag, Tumpek Uduh, atau Tumpek Bubuh  maka makalah ini diberi  judul Tumpek Atag Dalam Metologi Hindu Di Bali Dalam Menghormati Ciptaan Hyang Widhi Wasa Sebagai Dewa Kemakmuran
     Adapun alasan penulis mengungkap khusu diperayaan Tumpek Wariga atau disebut Tumpek atag/pengatag, Tumpek Uduh, atau Tumpek Bubuh karena didalam konsep Hindu di Bali kita mengenal konsep Tri Hita Karana berasal dari kata “Tri” yang artinya tiga, “Hita” yang artinya kebahagian, dan “Karana” yang berarti penyebab. Dengan demikian Tri Hita Karana tiga penyebab terciptanya kebahagian. Konsef kosmologi Tri Hita Karana merupakan palsafah tangguh. falsafah tersebut memiliki konsep yang dapat keunikan ragam budaya dan lingkungan, ditengah hantaman globalisasi dan homogenosasi. Pada dasarnya hakekat ajaran Tri Hita Karana menekankan tiga hubungan  kehidupan dengan manusia di Dunia ini. Setiap hubungan memiliki pedoman hidup menghargai sesama aspek sekitarnya.  Ketiga itu meliputi hubungan manusia dengan sesame, manusia dengan alam sekitarnya, manusia dengan Tuhan. Dalam kenyataan sebagai fenomena dimasyarakat secara umum dari pengamatan dilapangan bahwa masyarakat Hindu di Bali merayakan hari Tumpek Atag tersebut.

       Berdasarkan latar belakang tersebut, dapat dirumusan suatu pembahasan yang mempunyai arti sangat penting terhadap pokok pembahasan yang akan tulis yaitu memberi gambaran terhadap pembahasan serta menghindari pembahasan yang terlalu luas. Adapun rumusan yang akan dibahas didalam makalah ini antara lain:
1. Apa makna Tumpek Atag
2. Bagaimana tata cara pelaksanaan Tumpek Atag
3. Manfaat apa perayaan Tumpek Atag bagi kehidupan manusia.

3 Maksud Dan Tujuan Penulisan
Maksud penulisan atau pembahasan tentang Tumpek Atag untuk dapat memberikan informasi lebih lanjut ke masyarakat tentang gambaran atau pemahaman atau makna Tumpek Atag, memberikan sumbangsih ke masyarakat tata cara pelaksanaan dan manfaat Tumpek Atag.
Tujuan penulisan merupakan rumusan kalimat yang menunjukkan bahwa adanya suatu hal yang diperoleh setelah penulisan makalah selesai. Secara garis besar ada tiga tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini yaitu antara lain:
1. Untuk mengetahui makna Tumpek Atag
2. Untuk mengetahui bagaimana tata cara pelaksanaan Tumpek Atag
3. Untuk mengetahui manfaat perayaan Tumpek Atag bagi kehidupan manusia.


PEMBAHASAN


     Pemerintah Indonesia telah menetapkan tanggal 28 November sebagai Hari Menanam Pohon Indonesia. Selain itu, Inilah upaya nyata membangkitkan tradisi menanam pohon di kalangan masyarakat Indonesia guna mengurangi dampak Global Warming/Pemanasan Global sehingga bumi tetap nyaman untuk dihuni. Di Bali khususnya dengan masyarakat beragama Hindu, sejatinya sejak lama sudah memiliki tradisi untuk menghargai segala jenis tumbuh-tumbuhan (sarwa tumuwuh). Hindu Bali mengenal tradisi hari Tumpek Wariga (disebut juga Tumpek Pengatag, Tumpek Bubuh serta Tumpek Uduh) yang sejatinya sebagai hari peringatan agar manusia Bali menyadari betapa besar dan pentingnya peranan tumbuhan dalam menopang hidup dan kehidupan. Sepatutnya tradisi Tumpek Wariga disertai dengan penanaman pohon. Namun, yang menonjol selama ini lebih banyak ritual. Inilah saatnya mereaktualisasi Tumpek Wariga yang dengan kondisi zaman. Dengan demikian, sejatinya, perayaan hari Tumpek Pengatag memberi isyarat dan makna mendalam agar manusia mengasihi dan menyayangi alam dan lingkungan yang telah berjasa menopang hidup dan penghidupannya. Pada Tumpek Pengatag, momentum kasih dan sayang kepada alam itu diarahkan kepada tumbuh-tumbuhan. Betapa besarnya peranan tumbuh-tumbuhan dalam memberi hidup umat manusia. Hampir seluruh kebutuhan hidup umat manusia bersumber dari tumbuh-tumbuhan, mulai dari pangan, sandang hingga papan.
Karena itu pula, tradisi perayaan Tumpek Pengatag tidaklah keliru jika disepadankan sebagai peringatan Hari Bumi gaya Hindu Bali dan kini bisa direaktualisasi sebagai hari untuk menanam pohon. Tumpek Pengatag merupakan momentum untuk merenungi jasa dan budi Ibu Bumi kepada umat manusia. Selanjutnya, dengan kesadaran diri menimbang-nimbang perilaku tak bersahabat dengan alam yang selama ini dilakukan dan memulai hari baru untuk tidak lagi merusak lingkungan. Sampai di sini, dapat disimpulkan para tetua Bali di masa lalu telah memiliki visi futuristik untuk menjaga agar Bali tak meradang menjadi tanah gersang dan kerontang akibat alam lingkungan yang tak terjaga. Bahkan, kesadaran yang tumbuh telah pula dalam konteks semesta raya, tak semata Bali. Visi dari segala tradisi itu bukan semata menjaga kelestarian alam dan lingkungan Bali, tetapi juga kelestarian alam dan lingkungan seluruh dunia. Istimewanya, segala kearifan itu muncul jauh sebelum manusia modern saat ini berteriak-teriak soal upaya untuk menjaga kelestarian lingkungan. Jauh sebelum dunia menetapkan Hari Bumi, tradisi-tradisi Bali telah lebih dulu mewadahinya dengan arif.
     Tumpek sangat erat kaitannya dengan Kalender Hindu di Bali yang merupakn gabungan dari Caka surya pramana dan Chandra Pramana serta wuku yang kita kenal sebanyak 30 (tiga puluh) wuku, selain wuku ada juga siklus lain yaitu Saptawara dan Pancawara. Sehingga antara Sapta wara terakhir Saniscara ketemu dengan Pancawara terakhir ( kliwon ) maka siklus inilah kemudian disebut tumpek, yang datangnya setiap 35 (tiga puluh lima) hari. Hari Tumpek dalam metologi Hindu, dimasyarakat awam sering dikatakan otonannya, bisa dibilang ulang tahun Bali otonan (6 bulan sekali ‘) sutu peringatan sebagai ungkapan rasa syukur dan trimakasih. Di mana umat Hindu membuat sesajen/upakara untuk memuja Hyang Widhi Wasa, karena beliau telah melimpahkan segala wara nugraha-Nya kepada kita dari hasil atau manfaat yang kita dapat manfaatkan untuk membantu kita hidup.
     Tumpek akan bertemu setiap akhir wuku Saniscara (Sapta wara) dan akhir Pancawara Kliwon, inilah yang kemudian disebut denga awal dan akhir dalam istilah Hindu disebut Utpeti, Stiti dan Prelina, yang kemudian diambilah Utpeti dan Prelina ( Tum-Pek ). Tumpek beasal dari kata Tumampek’, yaitu mendekatkan diri kepada sang Maha Pencipta dengan jalan mensyukuri segala ciptaannya baik secara langsung maupun tidak langsung kita nikmati sehingga sudah sewajarnyalah kita mensyukurinya kepada sang pemberi nikmat. Siklus kedatangannya sebagai apa yang digariskan oleh arti Tumpek itu sendiri yaitu:  TU artinya metu dan Pek artinya berakhir.  Jadi Tumpek berarti merupakan awal dan juga akhir.  Pengatag berasal dari kata atag, artinya memanggil. Disebut demikian karena pada hari ini umat hindhu di Bali memrintahkan atau memohon dengan cara memanggil agar pohon-pohon mau berbuah lebat. Sesungguhnya.
      Hari ini  adalah pemujaan Dewa Sangkara, manifestasi Tuhan yang menjadi dewanya tumbuh-tumbuhan atau pepohonan khususnya yang berbuah. Memang, menurut tradisi susastra Bali, yang menyebabkan tumbuh-tumbuhan hidup dan memberikan hasil kepada manusia adalah Hyang Sangkara. Karenanya, ucapan syukur dan penghormatan kepada Hyang Sangkara mesti dilakukan manusia dengan mengasihi segala jenis tumbuh-tumbuhan. Upacara di gelar pada pepohonan yang berbuah paling lebat, sedangkan masing-masing pohon di ketok dengan ucapan yang bermakna memohon agar pepohonan berbuah lebat kemudian di gantungi gantung-gantungan,

1 Makna Tumpek Atag

    Di Bali Umat Hindu juga sering menyebutnya Tumpek Wariga yang jatuh 25 hari sebelum Hari Raya Galungan. Disebut Tumpek Wariga, karena dilaksanakan pada Saniscara Kliwon Wariga. Sebagai rasa syukur kehadapan  Hyang Maha Pencipta dalam manifestasinya sebagai Hyang Sangkara atas ciptaanya. Sang Hyang Sangkara akan dipuja di arah wayabya (Barat Laut) atau Kaja-Kauh dari pengider mata angin Bali. Untuk alasan itu, dalam pengider buana, Sang Hyang Sangkara digambarkan dengan warna hijau, yang mewakili tumbuhan. Jika kita merujuk pada konsep Siva Siddhanta, maka Sang Hyang Sangkara adalah bagian dari perbanyakan Bhatara Siwa yang tidak berbeda dengan Beliau. Tetapi, dalam etika dan upacaranya, pembagian dan pembedaan itu diadakan untuk menggambarkan kekuatan Beliau yang tanpa batas dan agar manusia yang serba terbatas ini dapat merealisasikan setiap energi Tuhan dalam kehidupannya.
     Peringatan hari raya Tumpek Atag tentu kita bisa rasakan betapa alam saling mendukung keberadaan satu sama lain, di hari otonan tumbuh-tumbuhanan ini, kita berharap hujan akan jatuh dari bapa akasa memandikan seluruh tumbuhan agar menjadi bersih, memberikan siraman kesejukan kepada ibu pertiwi, agar ibu pertiwi bisa memberikan kesuburan dan menghidupi tanam-tanamanan di atasnya. Namun untuk mewujudkan semua itu, kita sebagai umat tidak cukup hanya dengan menghaturkan sesajen untuk tumbuh-tumbuhan setiap rahina Tumpek Uduh. Namun perlu diiringi dengan aksi nyata, misalnya turut menyukseskan program pemerintah aktif melakukan aksi penghijauan melalui program satu miliar pohon, one man one tree, wanita menanam pohon atau program sejenisnya, menyayangi tumbuh-tumbuhan, memerangi aksi illegal logging dan lainnya. Dengan lestarinya alam dan tumbuh-tumbuhan ini, diharapkan dapat pula menekan atau mengurangi dampak dari pemanasan global (global warming). Tidak ada istilah terlambat untuk menanam pohon, karenanya mulai lah dari sekarang, mulai dari lingkungan di sekitar kita. Karena apa yang kita tanam saat ini demi anak cucu kita kelak.

2 Tata Cara Pelaksanaan Tumpek Atag


Disebut juga Tumpek Bubuh, karena saat itu dihaturkan bubur sumsum yang terbuat dari tepung. Disebut Tumpek Pangatag, karena matra yang digunakan untuk mengupacarai tumbuhan disertai dengan prosesi ngatag, menggetok-getok batang tumbuhan yang diupacarai. Adapun banten atau sarana yang diperlukan dan dihaturkan saat Tumpek Wariga adalah sebagai berikut :       
v  Banten Prass.
v  Banten Nasi Tulung Sesayut.
v  Banten Tumpeng.
v  Bubur Sumsum (dibuat Tepung)
v  Banten Tumpeng Agung
v   Ulam itik (diguling), banten penyeneng.
v  Tetebusan, dan canang sari, ditambah dupa harum.
Banten tersebut dihaturkan menghadap Kaja-Kauh dan ayatlah Bhatara Sangkara sebagai Dewanya tumbuhan. Kemudian, semua tanaman yang ada di sekitar rumah atau pekarangan diberikan sasat gantungan dan diikat di bagian batangnya. Setelah itu, berikan bubur sumsum. Lalu, "atag", pukulkan tiga kali dengan pisau tumpul (tiuk tumpul) dengan mengucapkan mantra sebagai berikut :
"Kaki-kaki, dadong dija? Dadong jumah gelem kebus dingin ngetor. Ngetor ngeed-ngeed-ngeeed-ngeeed, ngeed kaja, ngeed kelod, ngeed kangin, ngeed kauh, buin selae lemeng galungan mebuah pang ngeeed"
Yang artinya:
"Kakek-kakek, nenek dimana? Nenek dirumah sakit panas mengigil. Mengigil lebatt-lebatt-lebattt-lebattt, lebat utara, lebat selatan, lebat timur, lebat barat, lagi dua puluh lima hari hari raya galungan berbuahlah dengan lebat"
            Mantra tersebut adalah mantra sesontengan (makna kiasan) secara turun temurun diucapkan saat mempersembahkan upakara (banten) Tumpek Atag.  Penyebutan kaki-dadong dalam konteks ini adalah upaya penunjukan yang ditujukan untuk memuliakan tumbuhan yang jauh lebih dulu ada dari pada manusia dan makhluk lain yang ada di permukaan Bumi. Entah siapa yang memulai dan sejak kapan petikan monolog tersebut diatas tersebar luas di kalangan masyarakat Hindu di Bali, penulis tidak mengetahui secara pasti. Dan kutipan monolog tersebut di atas mungkin tidak sama persis diucapkan oleh warga desa yang satu dengan warga desa yang lainnya. Namun yang jelas, petikan monolog yang kerap terdengar setiap rerahinan Tumpek Uduh tersebut memiliki tujuan atau pun harapan yang sama. Yakni, sebagai wujud kepedulian umat Hindu akan kelestarian lingkungan di sekitarnya, khususnya tumbuh-tumbuhan. Selain itu, sebagai ungkapan terimakasih serta puji syukur ke hadapan Ida Sanghyang Widi Wasa atas segala rahmat yang dianugerahkannya berupa tumbuh-tumbuhan yang subur, dengan batang yang kokoh dan daun serta buah yang lebat sebagai sumber kemakmuran bagi seluruh umat manusia. Hal tersebut sebagaimana kutipan terakhir pada monolog di atas yakni, …nged…, nged, nged….! Yang berarti lebat.
    Seperti diketahui, di beberapa tempat di Bali ada yang menyebut rerahinan jagat tersebut dengan istilah Tumpek Bubuh (mungkin karena salah satu isi sesajen yang dihaturkan berupa bubur), ada pula yang menyebutnya dengan Tumpek Pengatag, Tumpek Pengarah (mungkin pula sebagai pemberitahuan terkait datangnya Hari Raya Galungan, karena rerahinan ini jatuhnya persis 25 hari menjelang Hari Raya Galungan). Ada pula yang menyebutnya sebagai Tumpek Wariga, karena bertepatan dengan wuku Wariga. Sementara sebagian masyarakat lagi ada yang mengistilahkan upacara ini sebagai otonan punyan-punyanan. Dalam meteologi Hindu ada penggambaran Sang Hyang Sangkara lebih didominasi dengan tampilan yang terkesan seperti di hutan rimba. Hyang Sangkara duduk di bawah pohon beringin (pippala) yang memiliki akar gantung ribuan banyaknya serta lebat dan besar. Sedangkan di Bali, Beliau digambarkan menyatu dengan pangider Buana dengan Dewata Nawa Sanga Lainnya.

3. Manfaat Perayaan Tumpek Atag Bagi Kehidupan Manusia.

Hanya memang, perayaan Tumpek Pengatag sebagai Hari Bumi gaya Bali menghadirkan ironi tersendiri. Dalam berbagai bentuk, ritual dan tradisi itu berhenti pada wujud fisik upacara semata, dampak keterjagaan terhadap lingkungan Bali tampak secara signifikan. Dengan membuat sarana upakara (Banten) tersebut dengan mengucapkan mantra itu, diharapkan tanaman yang berbunga akan berbunga lebat, yang berbuah akan berbuah lebat. Nantinya, buah ataupun bunga tersebut akan bermanfaat bagi kehidupan masyarakat, khususnya saat Galungan. Dengan penuh rasa syukur agar ada tanaman buah yang berbuah sehingga bisa dipetik untuk sarana upakara saat perayaan hari raya Galungan. 
Tumpek Pengatag, atau Tumpek Bubuh adalah hari turunnya Sanghyang Sangkara yang menjaga keselamatan hidup segala tumbuh- tumbuhan (pohon-pohonan). Beliau memelihara agar tumbuh-tumbuhan itu subur tumbuhnya, hidup dan terhindar dari hama penyakit, agar supaya memberikan hasil yang baik dan berlimpah, melebihi dari yang sudah-sudah dan hemat walaupun dipakai atau dimakan. Kutipan monolog di atas seakan melukiskan harapan umat (Hindu) kepada Ida Bhatara Sangkara selaku manifestasi Ida Sanghyang Widi Wasa sebagai penguasa tumbuhan-tumbuhan agar melimpahkan karunia-Nya untuk kesejahteraan umat manusia, bukan hanya saat menjelang Galungan namun selamanya. Misalnya, agar pepohonan tumbuh subur, berdaun, berbunga atau berbuah lebat (nged). Membaca apa yang disampaikan diatas , akan menjadi menawan, bila Tumpek Pengatag tak semata diisi dengan menghaturkan banten pengatag kepada pepohonan, tapi juga diwujudnyatakan dengan menanam pohon serta menghentikan tindakan merusak alam lingkungan. Dengan begitu, Tumpek Pengatag yang memang dilandasi kesadaran pikir visioner menjadi sebuah perayaan Hari Bumi yang paripurna. Bahkan, manusia Bali bisa lebih berbangga, karena peringatan Hari Bumi-nya dilakonkan secara nyata serta indah menawan karena diselimuti tradisi kultural bermakna kental. Bahkan, Bali tak perlu lagi dibuatkan tradisi baru "Hari atau Bulan Menanam Pohon".
    Kita harus sadar bahwa sumber energy yang kita miliki untuk melakukan rutinitas seharian kita berasal dari alam. 
Annaad bhavanti bhuutaani. Prajnyaad annasambhavad.
Yadnyad bhavati parjany, Yadnyah karma samudbhavad.
(Bhagavad Gita.III.14)
Artinya:
Makhluk hidup berasal dari makanan. Makanan berasal dari tumbuh-tumbuhan. Tumbuh-tumbuhan berasal dari hujan. Hujan berasal dari yadnya. Yadnya itu adalah karma.
Tanpa tumbuh-tumbuhan, semua makhluk bernyawa tidak dapat melangsungkan hidupnya, karena bahan pokok makanan hewan dan manusia adalah tumbuh-tumbuhan. Adanya tumbuh-tumbuhan adalah yadnya dari bumi dan langit kepada semua makhluk hidup ini. Hal inilah yang semestinya kita lakukan secara terus menerus, dan berkelanjutan, mengajegkan flora dan fauna Bali, bahkan di seluruh dunia. Secara berkala dalam merayakan hari Tumpek Wariga, di samping secara niskala kita melakukan upacara keagamaan. Dengan demikian, dari Tumpek Wariga ke Tumpek Wariga berikutnya kita dapat menyaksikan berbagai kemajuan dalam pelestarian tumbuh-tumbuhan Bali.







PENUTUP


1 kesimpulan
Dari pembahasan diatas, dapat disimpulkan sebagaiberikut:
1. Makna Tumpek Atag, yaitu: Tumpek Atag merupakan peringatan Kemaha Kuasaan Hyang widhi sebagai manesfestasi Tuhan pencipta tumbuh-tumbuhan khusunya tanaman buah-buahan yaitu Sang Hyang Sangkara .
2. Tata cara pelaksanaan Tumpek Atag, yaitu: Dipersembahkan bubur sumsum yang terbuat dari tepung, Banten Prass, Banten Nasi Tulung Sesayut, Banten Tumpeng, Bubur Sumsum (dibuat Tepung), Banten Tumpeng Agung, Ulam itik (diguling), banten penyeneng, Tetebusan, dan canang sari, ditambah dupa harum.
Banten tersebut dihaturkan menghadap Kaja-Kauh dan ayatlah Bhatara Sangkara sebagai Dewanya tumbuhan. Kemudian, semua tanaman yang ada di sekitar rumah atau pekarangan diberikan sasat gantungan dan diikat di bagian batangnya. Setelah itu, berikan bubur sumsum. Lalu, "atag", pukulkan tiga kali dengan pisau tumpul (tiuk tumpul) dengan mengucapkan mantra sebagai berikut :
 "Kaki-kaki, dadong dija? Dadong jumah gelem kebus dingin ngetor. Ngetor ngeed-ngeed-ngeeed-ngeeed, ngeed kaja, ngeed kelod, ngeed kangin, ngeed kauh, buin selae lemeng galungan mebuah pang ngeeed"
3. Manfaat perayaan Tumpek Atag bagi kehidupan manusi, yaitu: Dengan membuat sarana upakara (Banten) tersebut dengan mengucapkan mantra itu, diharapkan tanaman yang berbunga akan berbunga lebat, yang berbuah akan berbuah lebat. Nantinya, buah ataupun bunga tersebut akan bermanfaat bagi kehidupan masyarakat, khususnya saat Galungan. Masyarakat Hindu Bali yang akan merakakan hari raya Galungan yang jatuhnya pada hari rabu Wuku Dungulan yaitu 25 hari sebelum Hari Raya Galungan. Dengan penuh rasa syukur agar ada tanaman buah yang berbuah sehingga bisa dipetik untuk sarana upakara saat perayaan hari raya Galungan. Disebut juga hari raya Tumpek Uduh, Tumpek Pengarah, Tumpek Pengatag, atau Tumpek Bubuh. Hari ini adalah hari turunnya Sanghyang Sangkara yang menjaga keselamatan hidup segala tumbuh- tumbuhan (pohon-pohonan). Beliau memelihara agar tumbuh-tumbuhan itu subur tumbuhnya, hidup dan terhindar dari hama penyakit, agar supaya memberikan hasil yang baik dan berlimpah, melebihi dari yang sudah-sudah dan hemat walaupun dipakai atau dimakan.


sumber: http://herbaltarupramana.com
Share this article :

0 comments:

KALENDER BALI

Translate

 
Support : OM Santi-Santi-Santi OM by Blogger
Terbit Tahun © 2014. BALINUSE
TERIMA KASIH by All Right ON SUARA BALAM